MANOKWARI – Tergerak untuk menjaga dan melestarikan ekosistem laut di perairan pulau mansinam dan sekitarnya, Komunitas Ketapang Dive Manokwari yang berdiri sejak tahun 2021 lalu turut membudi dayakan tukik/anak penyu belimbing dan sisik yang mulai terancam punah.
Ketua Komunitas Ketapang Dive Manokwari Alexander Sitanala mengatakan komunitas selam yang ia prakarsai tidak hanya melakukan aktifitas menyelam rekreasi atau wisata, tetapi juga menjaga ekosistem bawah laut seperti menanam terumbu karang dan menjaga kelestarian penyu.

Alexander Sitanala, Ketua Komunitas Ketapang Dive Manokwari
” Awalnya kami berpikir harus menjaga penyu ini karena sudah sangat jarang ditemukan lagi di perairan teluk ini” kata Alex.
Kemudian pada November 2021, pihaknya pertama kali melepas 120 ekor tukik jenis sisik di Pulau Mansinam dengan harapan dapat dijaga dan tidak diburu oleh masyarakat, sehingga di masa depan masih bisa dilihat oleh generasi penerus.
” Setelah yang pertama kami lepas lagi kedua 130, dan ketiga 80 ekor di Mansinam, kemudian pada kegiatan W20 dan Y20 kemarin kami turut melepas tukik hijau 50 ekor, dan belum lama ini dengan Bapak Gubernur lepas 300 tukik sisik di Aipiri” terangnya.
Proses Awal
Untuk menyelamatkan kepunahan penyu di perairan Manokwari yang diketahui banyak diburu oleh masyarakat, Alex bersama rekan-rekan di Komunitas Ketapang Dive Manokwari memberikan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mau menjaga penyu. Terlebih penyu belimbing yang lebih banyak ditemukan di wilayah panturan.
Kemudian setelah itu beberapa masyarakat yang mulai sadar, tidak lagi menjual atau mengkonsumsi daging dan telur penyu, tetapi mereka menjaga telur penyu hingga menetas.
” Ini berkaitan dengan ekonomi masyarakat, mereka terpaksa menangkap penyu untuk di jual atau di makan karena kebutuhan, jadi kita harus berikan solusi kepada mereka supaya mengurangi hal itu dan Pemerintah dalam hal ini dinas terkait tidak melihat itu sehingga terus terjadi” ujar Alex.

Pemeliharaan Tukik
Dikatakan Alex, saat ini pihaknya baru memiliki 1 bak penangkaran yang dijaga oleh masyarakat di wilayah pantura. Nantinya ia berencana membangun 3 bak penangkaran agar lebih banyak masyarakat yang ikut menjaga telur penyu hingga menetas.
Setelah menetas, telur penyu dipindahkan dari bak penangkaran telur ke kolam penampungan tukik. <span;>Masa waktu penetasan telur penyu rata-rata mencapai 3 bulan.
Saat ini, terdapat 36 ekor tukik jenis belimbing dan 48 tukik jenis sisik. Setiap harinya, Alexander selalu mengganti air di bak penampungan tukik dan memberi makan tukik dengan udang kering atau ebi sebanyak 2 kali sehari. Dalam sebulan bisa menghabiskan 2 kilo ebi untuk tukik belimbing, sedangkan 1 kg ebi bisa dihabiskan dalam 2 hari untuk memberi makan tukik jenis sisik.
Nantinya setelah 1 bulan ke depan, pihaknya akan melepas tukik jenis sisik di pulau Mansinam dan tukik jenis belimbing di Pantai Distrik Manokwari Utara, dengan harapan dapat menjaga kelestarian penyu agar tidak punah.
” Mari kita jaga penyu, lindungi penyu karena salah satu biota laut yang harus dilindungi karena keberadaannya yang sudah hampir punah” tutupnya. (ACM)






















