MANOKWARI – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Provinsi Papua Barat memprediksi awal musim kemarau 2024 di wilayah Privinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya terjadi pada bulan Juli mendatang.
Hal itu disampaikan Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Provinsi Papua Barat, Uci Sanusi saat menggelar release, Selasa (26/3/2028) di Kantor BMKG Papua Barat Arfai. Tidak hanya offline, realese juga digelar secara daring/online yang diikuti pemerintah daerah dan instansi terkait.
Uci Sanusi menjelaskan awal musim kemarau 2024 di Papua Barat dan Papua Barat terjadi pada bulan Juli, sedangkan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus dan Oktober 2024.
” ENZO saat ini menunjukkan El Nino Moderat dan secara gradual akan menjadi netral di pertengahan tahun 2024. Awal musim kemarau terdekat diprediksi pada bulan Juli dan paling akhir bulan Oktober 2024,” tutur Uci.

Dikatakan Kepala BMKG Papua Barat, awal musim kemarau pada bulan Juli terjadi pada 2 zona musim (ZOM) yaitu wilayah Manokwari ( Manokwari Barat, Utara dan Timur), Fakfak ( sebagian Fakfak Timur, sebagian Kaimana Selatan dan bagian selatan Teluk Bintuni).
Sedangkan puncak kemarau paling akhir di prediksi pada bulan Oktober terjadi pada 3 wilayah ZOM yaitu Manokwari ( Warmare, Prafi, Masni, Sidey), sebagian besar Pegunungan Arfak bagian timur, Manokwari Selatan ( Dataran Isim), Teluk Bintuni ( sebagian kecil Dataran Beimes Utara ), dan Raja Ampat ( Waisai dan sebagian besar Kepulauan Waigeo).
Selanjutnya terdapat 3 ZOM yang telah melewati musim kemarau dan memasuki musim hujan 2024/2025 yaitu Manokwari (Sidey Barat), Pegaf ( Testega), Teluk Bintuni (Moskona Timur, Moskona Uyara, Masyeta), Sorong (Sayosa Utara) dan sebagian besar Tambrauw.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Papua Barat, Uci Sanusi (Tengah) Saat Menjelaskan Prediksi Awal Musim Kemarau 2024 di Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Sementara itu, sifat hujan pada periode musim kemarau diprediksi dominan dalam kondisi normal. Walau demikan prakiraan curah hujan 6 bulan kedepan masih berpeluang tinggi terjadi di bulan Juni-Agustus, khususnya di Provinsi Papua Barat Daya.
” Sorong masuk dalam tipe curah hujan ekuatorial dimana curah hujan tinggi sepanjang tahun. DI bulan Mei, Juni, Juli ini curah hujan di Sorong masih tinggi, sehingga perlu diantisipasi,” jelasnya.
Uci Sanusi berharap pemerintah daerah, stake holder dan masyarakat perlu mewaspadai wilayah yang akan memasuki kemarau dan mewaspadai kondiai cuaca ekstrim seperti angin kencang, curah hujan dengan intensitas tinggi yang dapat terjadi saat masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.
” Kepada masyarakat diimbau tidak mudah percaya isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan selalu update info mengenai cuaca dari Kantor BMKG maupun media sosial BMKG,” pungkasnya. (ACM)






















