MANOKWARI – Posyandu Bougenvil Sowi III jadi roll model dalam menekan angka stunting anak di Manokwari. Posyandu ini dicanangkan oleh Bupati Hermus Indou dan Ketua TP PKK Kabupaten Manokwari Febelina Indou sebagai rumah gizi pertama di Manokwari.
Bupati Hermus Indou mengaku cukup miris melihat tingginya angka stunting anak di Manokwari, dirinya menganggap angka ini menunjukan tingkat kemiskinan di Manokwari.
“Melihat dari angka yang di laporkan mengenai data stunting ada 1418 anak dan memberikan kontribusi terbesar di Papua Barat. Stunting mencerminkan bahwa kualitas pemerintah di Manokwari masih jauh tertinggal dari kabupaten kota lain dan ini menjadi gambaran kemiskinan di Papua Barat terutama di Manokwari masih cukup tinggi,” tuturnya
Penanganan stunting yang tepat dapat menghapuskan kemiskinan ekstrim di Manokwari. Untuk itu dibutuhkan tim gugus tugas penanganan stunting di tingkat kelurahan hingga kampung untuk mengatasi stunting di daerah.
” Penanganan ini di targetkan 3 bulan dan tidak boleh kendor, harus di laksankaan. Setelah 3 bulan harus di evaluasi,” tambahnya.
Ketua TP PKK Kabupaten Manokwari Febelina Indou menjelaskan secara umum stunting adalah salah satu penyakit kronis yang mempengaruhi faktor pertumbuhan anak-anak, mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.
Masukkan gizi yang cukup setiap hari terlebih saat kehamilan jadi sangat penting untuk ibu-ibu di masa kehamilan karena itu akan berpengaruh menentukan kesehatan anaknya.

“Hari ini kita melaksanakan kerjasama dalam rangka pencanangan rumah gizi atas kerjasama Pemda Dan Puskesmas yang merupakan program prioritas dari tim penggerak PKK,” ujarnya.
“Kami menginisiasi kegiatan pencanangan ini dengan masa 3 bulan, dengan harapan 3 bulan ke depan tidak ada lagi anak stunting di Kelurahan Sowi,” sambung Febelina.
Kepala Puskesmas Sowi Gerda Boseren menjelaskan terdapat 35 anak stunting di kelurahan Sowi, hal tersebut terjadi juga akibat situasi ekonomi, lingkungan dan sosial masyarakat sekitar.
“Data stunting sebelumnya berjumlah 68 anak dan sekarang ada 35 anak stunting di kelurahan Sowi. Jumlah posyandu ada 9 dan beberapa anak stunting tersebar di posyandu tersebut. Survei yang di lakukan dalam rangka kegiatan ini melihat situasi ekonomi, lingkungan dan sosial,” ucapnya.
Ruth Orisu selaku orang tua anak stunting merasa terbantu dengan adanya program tersebut agar kebutuhan anaknya dapat terpenuhi dengan baik.
” Saya rasa ini merupakan hal yang baik, harapan anak saya kedepan bisa menerima asupan gizi dan kesehatan yang baik. Terutama posyandu ini menjadi posyandu pertama yang sebelumnya belum terlalu memperhatikan anak-anak stunting di Manokwari” tukasnya. (ACM_2)






















