MANOKWARI – Panitia Hari-Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Manokwari bersama Pemda, Al Khairaat, Ormas Islam, Ortom-ortomnya, Takmir Masjid, BKMT, dan PUIM Manokwari menggelar Tabligh Akbar memperingati Isra Mi’raj 1445 H/2024 M, bertempat di Masjid Ridwanul Bahri Fasharkan, Kamis (8/2/2024).
Mengambil tema ” Dengan momentum Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Kita Jadikan Sholat Sebagai Penyangga Utama Dalam Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Tabligh Akbar ini menghadirkan Habib Sayyid Alwi Saggaf Aljufri (Ketua Utama Al Khairaat).

Diawali dengan pembacaan kalam illahi, tabligh akbar turut dihadiri Bupati Manokwari, Kakanwil Kemenag Manokwwri, Forkopimda Manokwari serta umat muslim di Manokwari.
Bupati Manokwari dalam sambutannya mengajak umat muslim di Manokwari menjadikan momentum peringatan isra mi’raj sebagai ajang instrospeksi diri, khususnya dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Saling menghormati antar umat beragama serta kelompok masyarakat.
” Marilah jadikan momentum isra mi’raj ini sebagai ajang introspeksi diri masing-masing pribadi dalam berperilaku sehari-hari. Mari kita hidup rukun, damai dan saling menghormati didalam keberagaman,” ajak Hermus.

Lanjut, Hermus memgatakan Pemda Manokwari berkomitmen selalu mendukung kegiatan keagaaman yang terlaksanan di Manokwari. Umat islam sendiri mempunyai kontrisbusi hampir 50-60 persen dalam keberhasilan pembangunan di Manokwari. Untuk itu melalui momentum isra mi’raj Bupati Hermus mengajak umat muslim memperkuat persatuan dan kesatuan di Manokwari.
” Mari terus kita tingkatkan rasa kasih sayang kita antar umat beragama untuk memperkuat persatuan dan kesatuan kita sebagai wujud melestarikan keberagaman Indonesia,” imbuhnya.
Kepala Kantor Kemenag Kab. Manokwari Saul Nauw dalam sambutannya mengatakan melalui peringatan Isra Mi’raj diharapkan umat muslim kembali pada tujuan sholat sebagai tiang agama sehingga bisa lebih mendekat diri dengan Sang Pencipta Allah SWT.
” Sesuai tema yang diambil, mari melalui momentuk ini kita tegakkan kembali sholat sebagai tiang agama serta sebagai penyangga yang kokoh dalam menjaga persatuan dan kesatuan kita,” ujar Saul Nauw.

Sementara Habib Sayyid Alwi Saggaf Aljufri dalam tausiyahnya mengatakan Isra dan Mi’raj sendiri pada dasarnya merupakan dua peristiwa berbeda. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara Mi’raj merupakan naiknya Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha, langit tertinggi yang tak dapat dijangkau oleh siapa pun.
Melalui peristiwa Isra Mi’raj, Allah SWT menurunkan perintah salat lima waktu secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW.
” Isra dan mi’raj merupakan 2 perjalanan terpanjang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang dilakukan dalam satu malam dimana dalam peristiwa itu diturunkan langsung perintah sholat,” terang Habib.

” Pada awalnya Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menjalankan sholat 50 waktu dalam sehari. Namun, Rasulullah meminta keringanan sehingga menjadi sholat lima waktu dalam sehari. Dari sini-lah, sholat lima waktu menjadi ibadah wajib bagi umat Muslim,” sambungnya.
Dikatakan Habib Sayyid, Malam hari adalah waktu yang paling istimewa. Salah satunya dibuktikan dalam perjalanan Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW sehingga malam hari merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.
” Kenapa doa yang paling mustajab dilakukan pada malam hari, karena kita lihat bahwa peristiwa isra mi’raj ini juga terjadi di malam hari, sehingga doa yang paling mustajab dilakukan malam hari” tukasnya. (ACM)






















