MANOKWARI, acemo.co.id – Wakil Bupati Manokwari, H. Mugiyono, mendorong agar pelaku usaha lokal di daerah tersebut mendapat kesempatan lebih besar untuk menjadi pemasok bahan pangan bagi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut disampaikan Mugiyono saat ditemui di Lapangan Borasi, Manokwari, Selasa (11/08/2026). Ia mengatakan, pemerintah daerah berharap keberadaan program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Menurutnya, alokasi anggaran yang diterima daerah saat ini masih dinilai belum ideal jika dibandingkan dengan kebutuhan Manokwari sebagai ibu kota Provinsi Papua Barat dengan jumlah komunitas dan masyarakat yang cukup besar.
“Harapan kita sebenarnya lebih besar karena Manokwari ini ibu kota, komunitasnya lebih banyak. Tetapi karena mungkin ada pertimbangan lain dari pusat, kita terima karena sudah ada PMK-nya,” ujar Mugiyono.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan menyesuaikan penggunaan anggaran dengan skala prioritas. Sebab, berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, anggaran yang tersedia masih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan.
“Kalau dari hitungan kita masih kurang, sangat kurang. Tetapi nanti yang paling prioritas dulu yang akan kita bahas dan kita sesuaikan,” katanya.
Selain persoalan anggaran, Mugiyono juga menyoroti peluang keterlibatan pelaku usaha lokal dalam memasok kebutuhan dapur MBG. Ia menilai, pelaku usaha lokal perlu diberi ruang apabila mampu memenuhi kebutuhan dan standar yang ditetapkan dapur MBG.
Menurutnya, sebagian usaha lokal saat ini memang belum dapat dikategorikan sebagai usaha besar dan belum tentu mampu menyediakan pasokan dalam jumlah besar secara terus-menerus. Namun, apabila mereka mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten, maka hal tersebut dinilai sangat positif.
“Mereka sebenarnya tidak diharuskan. Tetapi kalau mereka mampu dan mau mencoba menyuplai kepada dapur, itu sangat bagus sekali dan dapur harus menerimanya,” jelasnya.
Mugiyono mengakui, salah satu tantangan yang mungkin dihadapi adalah konsistensi dan keberlanjutan pasokan. Dapur MBG membutuhkan bahan pangan yang tersedia secara rutin sehingga kemampuan pelaku usaha dalam menjaga kontinuitas menjadi salah satu pertimbangan.
Meski demikian, ia berharap produk lokal tetap mendapat kesempatan untuk masuk dalam rantai pasok program tersebut.
“Kalau dapur belum bisa menerima karena pertimbangan tertentu, kita memahami. Tetapi masyarakat tentu sangat suka kalau yang digunakan itu produk lokal,” ujarnya.
Menurut Mugiyono, penggunaan produk lokal memiliki sejumlah keuntungan. Selain lebih segar karena berasal dari daerah setempat, pemanfaatan produk lokal juga dapat menggerakkan perekonomian masyarakat dan menjaga keberlangsungan usaha pelaku UMKM.
Ia menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi pelaku usaha untuk memasok kebutuhan dapur MBG. Namun, apabila mereka memiliki kemampuan dan pihak dapur bersedia menerima produk tersebut, maka kolaborasi itu dinilai sebagai langkah yang sangat baik.
“Kalau mereka mau menyuplai dan dapur merasa bersedia, bagus sekali itu,” pungkasnya. (Mega Irianti)






















