MANOKWARI – Dalam rangka mendukung upaya eliminasi malaria periode 2024-2026 di wilayah Indonesia Timur, khususnya Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Sub Recipient (SR) Yayasan Tifa Mandiri (Yatima) melaksanakan kegiatan pelatihan Strategi Komunikasi, Perubahan Perilaku dan Penggerakkan Masyarakat Bagi Tokoh Kunci, Selasa (20/8/2024).
Membuka kegiatan tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Papua Barat, dr. Nurmawati dalam sambutannya mengatakan menurut data nasional, kasus malaria tertinggi di kawasan Indonesia Timur masih dipegang oleh Provinsi di Tanah Papua. Walau demikian, di tahun 2022 lalu Kabupaten Sorong Selatan menjadi Kabupaten pertama di Tanah Papua yang berhasil dinyatakan bebas malaria. Kemudian di tahun 2024 ini, Kabupaten bebas Malaria juga diraih oleh Kabupaten Pegunungan Arfak.

Untuk itu dirinya mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh Perdhaki dalam memberikan pelatihan Strategi Komunikasi, Perubahan Perilaku dan Penggerakkan Masyarakat Bagi Tokoh Kunci Program Malaria sehingga dapat mempercepat eleminasi malaria ditingkat kampung melalui intervensi dana desa.
“Kami harapkan dukungan dari Bapak Ibu Kepala Kampung dan masyarakat dalam mengintervensi lingkungan yang menjadi tempat-tempat perindukan nyamuk malaria agar bisa dikendalikan bahkan dihilangkan,” harapnya.
Tidak hanya itu, perlunya meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat kampung agar tidak menyepelekan penyakit malaria karena jika tidak diatasi dengan benar dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada penderita dan tumbuh kembang anak bahkan dapat menyebabkan kematian baik pada anak maupun orang dewasa.
Sebelumnya Program Manager SR Yatima, Riska Rosy Pratiwi dalam laporannnya mengatakan program Malaria PERDHAKI berupaya mendorong lahirnya gerakan bersama yang melibatkan berbagai seluruh lapisan masyarakat serta stakeholder dalam berbagai strategi percepatan eliminasi malaria.

“ Dengan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat seperti advokasi, komunikasi perubahan perilaku dan penggerakan masyarakat, Program Malaria PERDHAKI berupaya membangun Program Malaria yang berkelanjutan dengan mendorong masyarakat sebagai subyek perubahan,” jelas Riska.
Adapun dalam pelaksanaan Program Malaria, selain melibatkan CSO dan CBO Perdhaki juga melibatkan berbagai Tokoh kunci sebagai mitra pelaksana program. Dengan melibatkan Tokoh kunci ini, diharapkan dukungan gerakan percepatan eliminasi malaria di tingkat desa dan kabupaten semakin intens.
Dengan keterlibatan Tokoh kunci dalam pelaksanaan Program Malaria, maka Perdhaki juga melakukan pelatihan terpadu peningkatan kapasitas advokasi, vokasi, analisis kebijakan, teknik fasilitasi, dan penggerakan masyarakat didasarkan pada kebutuhan untuk mempersiapkan staf yang memiliki kapasitas dalam mengadvokasi kepentingan masyarakat, menganalisis kebijakan yang relevan, memfasilitasi partisipasi aktif masyarakat, dan mendorong perubahan sosial yang positif.

“Pelatihan Peningkatan Kemampuan Strategi Komunikasi bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tokoh kunci dalam hal advokasi, analisis kebijakan, teknik fasilitasi, dan penggerakan masyarakat., ”ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama 5 hari ini diikuti sebanyak 45 peserta dari Dinas Kesehatan, Aparat kampung, Pendamping kampung, Aparat kelurahan, Ketua RT dan tokoh masyarakat, tokoh adat, tenaga ahli pemberdayaan masyarakat dan program manager SSR. (ACM)






















