MANOKWARI, acemo.co.id – Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Manokwari mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah, daun kering maupun lahan. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi menghasilkan asap yang dapat mengganggu jarak pandang pilot saat melakukan pendaratan di Bandara Rendani Manokwari.
Kepala Kantor UPBU Kelas II Manokwari, Herman Sujito, mengatakan imbauan tersebut disampaikan menyusul sejumlah keluhan dari pilot terkait keberadaan kumpulan asap di sekitar kawasan ujung landasan.
Herman mengatakan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena saat ini wilayah Manokwari mulai memasuki musim kemarau. Kondisi cuaca yang relatif kering membuat rumput, daun dan material mudah terbakar sehingga berpotensi menimbulkan asap.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran, baik pembakaran sampah maupun daun-daun kering. Saat ini kita sedang memasuki musim kemarau, sehingga banyak daun dan rumput yang mengering dan mudah terbakar,” ujar Herman saat memberikan keterangan di Kantor UPBU Kelas II Manokwari, Jumat (22/8/2026).
Menurutnya, asap yang muncul di sekitar kawasan bandara dapat mengurangi jarak pandang pilot, terutama ketika pesawat melakukan proses pendaratan.
Dalam beberapa hari terakhir, pihak UPBU menerima sejumlah laporan dari pilot melalui Tower AirNav. Pilot melaporkan adanya kumpulan asap, terutama dari arah selatan atau arah laut, yang menyebabkan landasan pacu tidak terlihat dengan jelas dari jarak yang seharusnya.
“Pada kondisi normal, pada jarak sekitar 700 meter dari ujung landasan, pilot seharusnya sudah dapat melihat landasan. Namun akibat adanya asap, landasan belum dapat terlihat dengan jelas,” jelasnya.
Keluhan tersebut kemudian disampaikan melalui Tower AirNav kepada pihak bandara. Menindaklanjuti kondisi tersebut, UPBU Manokwari juga telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat melalui media sosial agar tidak melakukan aktivitas pembakaran yang dapat menghasilkan asap di sekitar kawasan bandara.
Herman mengatakan, keluhan dari pilot mulai diterima sejak tanggal 9 dan terjadi beberapa kali hingga tanggal 12, terutama pada pagi hari. Pada periode tersebut, Tower AirNav beberapa kali menyampaikan laporan mengenai terganggunya jarak pandang saat pesawat melakukan pendaratan.
Pihak UPBU kemudian menyampaikan surat resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manokwari pada tanggal 13 untuk meminta perhatian dan langkah mitigasi terhadap persoalan asap yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
Pernah Alih Arah Pendaratan
Untuk membantu pilot dalam kondisi jarak pandang yang terganggu, pihak bandara telah memaksimalkan penggunaan lampu penerangan dan lampu pendaratan. Upaya tersebut dinilai cukup membantu pilot dalam proses pendaratan.
Namun demikian, Herman mengakui pihaknya belum dapat memastikan secara pasti sumber asap yang berada di sekitar ujung landasan, khususnya dari arah selatan.
“Kami belum dapat memastikan secara pasti dari mana sumber asap tersebut. Yang kami ketahui, terdapat kumpulan asap di sekitar ujung landasan, terutama dari arah selatan. Karena itu, kami akan terus melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan pihak terkait,” katanya.
Herman menegaskan, sejauh ini kondisi asap belum memberikan dampak signifikan terhadap operasional penerbangan. Belum terjadi penundaan maupun pengalihan penerbangan secara berulang.
Meski demikian, keberadaan asap tetap menjadi perhatian karena dapat mengganggu konsentrasi pilot ketika melakukan proses pendaratan.
Ia menyebut, pernah terjadi satu kali pesawat harus mengalihkan proses pendaratan dari arah selatan ke arah utara karena pilot tidak dapat melihat landasan dengan jelas. Setelah itu, proses pendaratan kembali dapat berlangsung secara normal.
“Kami tentunya tidak mengharapkan kondisi tersebut semakin parah. Jika jarak pandang semakin terbatas, bukan tidak mungkin pesawat harus melakukan pengalihan pendaratan dari arah lain atau bahkan dialihkan ke bandara lain. Hal seperti itu tentu tidak kita harapkan,” tegasnya.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar
Herman kembali meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah, daun kering maupun lahan, terutama selama musim kemarau.
Menurutnya, sampah dan daun kering sebaiknya dikumpulkan dan dikelola dengan cara lain yang tidak menghasilkan asap.
“Sudah beberapa minggu kita tidak mendapatkan hujan yang cukup, sehingga banyak daun dan rumput menjadi kering. Kami mengimbau agar jangan dibakar. Sebaiknya sampah dan daun kering dikumpulkan dan dicari cara pengelolaan lain yang tidak menimbulkan asap,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat, pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait dapat bersama-sama menjaga kondisi lingkungan di sekitar Bandara Rendani.
“Mari bersama-sama menjaga lingkungan sekaligus menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan,” pungkas Herman. (Mega)






















