MANOKWARI, ACEMO.CO.ID – Kerukunan Sragen Asri (KSA) Manokwari menggelar Pelatihan Gamelan Alat Musik Tradisional sebagai bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Papua Barat Daya.
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat KSA, Jalan Swapen Waimbo, Manokwari, Rabu (29/7/2026) menjadi upaya nyata dalam melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap seni musik tradisional.
Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua Barat serta Ketua-Ketua paguyuban se-Jawa Tengah di Manokwari.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Papua Barat Daya, Winarso, S.S
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Papua Barat Daya, Winarto, S.S., mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program pemerintah dalam mendukung pelestarian warisan budaya, baik warisan budaya tak benda maupun cagar budaya.
Menurutnya, BPK Papua Barat Daya memiliki wilayah kerja yang mencakup Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya dengan fokus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya di daerah.
“Pelatihan gamelan ini merupakan salah satu bentuk nyata pemajuan kebudayaan. Gamelan bukan hanya menjadi identitas budaya Jawa, tetapi telah menjadi warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. Karena itu, pelestariannya harus terus dilakukan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Winarto.
Ia berharap pelatihan tersebut tidak hanya diikuti masyarakat keturunan Jawa, tetapi juga dapat menarik minat masyarakat asli Papua untuk mempelajari gamelan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Gamelan adalah milik Indonesia yang sudah mendunia. Bahkan di berbagai negara seperti Prancis maupun Italia, gamelan dimainkan oleh masyarakat setempat karena mereka tertarik mempelajarinya. Kami berharap hal yang sama juga tumbuh di Papua Barat,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Japar Warbete memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan gamelan menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga keberlangsungan budaya bangsa di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, seni dan budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karya manusia yang mengandung nilai-nilai luhur, adat istiadat, moral, serta menjadi identitas suatu daerah. Karena itu, budaya harus terus dijaga sebagai perekat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Gamelan bukan hanya sekadar alat musik tradisional, tetapi juga mengajarkan filosofi kebersamaan dan harmoni. Tidak ada satu instrumen pun yang mendominasi, seluruh alat musik saling melengkapi sehingga menghasilkan irama yang indah. Nilai inilah yang harus terus kita pelihara dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Budhy Trihasto, S.E., M.M., dalam laporannya menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Papua Barat Daya.

Ia menyebutkan kegiatan ini memiliki dasar hukum Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, petunjuk teknis bantuan fasilitasi pemajuan kebudayaan, serta kerja sama antara Balai Pelestarian Kebudayaan Papua Barat Daya dengan Kerukunan Sragen Asri.
“Pelatihan ini bertujuan melestarikan seni musik tradisional gamelan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya tradisional, membentuk kelompok seni gamelan yang aktif di Kabupaten Manokwari, serta memperkuat kerja sama antara pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat,” jelas Budhy.
Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan ini yang berasal dari anggota Kerukunan Sragen Asri dan sejumlah sanggar seni di Kabupaten Manokwari. Selama dua hari, peserta mendapatkan materi teori, diskusi, dan praktik langsung memainkan gamelan bersama para instruktur.

Ketua Kerukunan Sragen Asri Manokwari, Subur, mengatakan pelatihan ini menjadi wadah untuk menanamkan kecintaan terhadap seni budaya, khususnya kepada generasi muda agar tetap mengenal dan melestarikan gamelan sebagai salah satu identitas budaya bangsa.
Menurutnya, seni dan budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang mengandung nilai-nilai luhur, moral, serta menjadi identitas daerah yang harus terus dijaga sebagai perekat persatuan bangsa dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Gamelan bukan sekadar alat musik tradisional, tetapi mengajarkan filosofi rasa, kebersamaan, dan harmoni. Tidak ada satu instrumen yang mendominasi. Semua dimainkan secara selaras sehingga menghasilkan irama yang indah. Nilai itulah yang ingin terus kami tanamkan kepada seluruh warga Kerukunan Sragen Asri di Manokwari,” ujar Subur.

Subur berharap melalui pelatihan ini, anggota Kerukunan Sragen Asri, khususnya generasi muda, mampu menguasai teknik dasar memainkan gamelan sehingga dapat tampil dalam berbagai kegiatan budaya maupun agenda kerukunan di Papua Barat.
Sebelumnya Ketua Ikaswara Manokwari, Suyanto juga mengapresiasi terobosan yang dilakukan Kerukunan Sragen Asri melalui pelatihan gamelan. Hal itu penting untuk terus menjaga dan melestarikan budaya leluhir kepada generasi muda. (Mega Irianti)






















