MANOKWARI – Bank Indonesia bersama Dirjen Perbendaharaan (DJPb) wilayah Papua Barat menggelar Diseminasi Moneter – Fisikal Papua Barat, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi Papua Barat yang inklusif dan berkelanjutan, yang dilaksanakan di Gedung DPJn, Kamis (30/5/2024).
Acara Diseminasi ini dibuka oleh Pj. Sekda Papua Barat Jacob Fonataba bersama Kepala Perwakilan BI Papua Barat, Setian dan Kepala Kantor DJPb Wilayah Prov. Papua Barat, Purwadhi Adhiputranto.
Dalam sambutanya, Pj. Sekda Papua Barat Jacob Fonataba menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya dalam mengetahui kondisi perekonomian terkini Papua Barat dan berguna menjaga stabilitas perekonomian di wilayah Papua Barat.

Dipaparkannya, pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan 1 tahun 2024 tumbuh sekitar 2,27% YOY(year on year), terutama ditopang oleh lapangan usaha jasa pemerintah yang tumbuh tinggi mencapai 16,87% YOY.
“Sementara itu komponen konsumsi pemerintah pada APBD Papua Barat yang digunakan di triwulan 1 2024 tetap tumbuh sebesar 5,5%, terlebih lagi realisasi belanja daerah pemerintah Provinsi Papua Barat sampai dengan 28 Mei kemarin 2024 telah mencapai 10,24% dari total pagu APBD Provinsi Papua Barat 2014”, tambahnya.
Dalam sejumlah paparan diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Papua Barat Barat tahun 2024 diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2023 didukung oleh tumbuhnya konsumsi swasta dan pemerintah, masih tingginya pertumbuhan ekspor Papua Barat dan perbaikan investasi.
Prospek Perekonomian Papua Barat Tahun 2024 Pertumbuhan ekonomi gabungan Papua Barat dan Papua Barat Daya pada tahun 2024 diprakirakan lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2023, mencapai 5,60%-6,40% (yoy), didukung oleh tingginya ekspor dan membaiknya investasi.

Sementara itu, kinerja pertumbuhan ekonomi tahun 2024 di sisi lapangan usaha diperkirakan didorong oleh pertumbuhan yang lebih tinggi LU pertanian, LU pertambangan, LU industri pengolahan dan LU konstruksi. Peningkatan kinerja LU tersebut didukung beberapa factor antara lain berakhirnya siklus dan dampak El Nino, telah diresmikannya beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) dan tambahan produksi LNG dari Train III Tangguh yang telah on-stream pada tahun 2023.
Prospek Inflasi IHK Papua Barat pada 2024 diperkirakan masih cukup terkendali yakni berada pada batas atas rentang sasaran inflasi 2,5%±1% (yoy). Masih tingginya inflasi pada jenis disagregasi tersebut disebabkan karena meningkatnya harga pangan terutama beras, fluktuasi harga ikan laut segar dan normalisasi harga komoditas holtikultura seperti cabai merah, cabai rawit dan sayur mayur.
Fonataba berharap melalui acara ini dapat lebih memahami perimbangan kebijakan moneter dan fisikal daerah serta merumuskan strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kinerja keuangan daerah.
“Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Papua Barat saya berharap agar program ini dapat menjadi ajang diskusi untuk bertukar pengalaman dan praktik antara pemerintah pihak swasta dan pemangku kebijakan dalam menghadapi tantangan ekonomi”, tuturnya. (ACM_2)






















