MANOKWARI – Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Papua Barat menggelar renungan bersama penyandang disabilitas Manokwari guna memperingati Hari Disabilitas Internasional, Selasa (3/12/2024) malam.
Malam renungan diawali dengan menyaksikan video-video perjuangan penyandang disabilitas yang menginspirasi, kemudian dilanjutkan dengan mendengar suara hati dari teman-teman penyandang disabilitas Manokwari, yang dilanjutkan dengan penyalaan lilin harapan dan dengan doa bersama.
Ketua Himpunan Wanita Disabilitas (HWDI) Papua Barat, Pendeta Sherly Parinussa mengatakan Hari Disabilitas Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember dan terus digaungkan dalam rangkaian 16 hari kampanye anti kekerasan berbasis gender yang dalamnya termasuk kaum disabilitas.
Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menyuarakan aspirasi kaum marginal yang sering kali mengalami ketidakadilan, eksploitasi, dan diskriminasi, sehingga bisa didengar dan mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan dalam hal ini Pemerintah dan stakeholder terkait yang harus peduli dan melindungi hak-hak mereka.
“ Kami bersama teman-teman disabilitas melakukan malam renungan sebagai rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional, dan sebelumnya sudah ada dialog interaktif di radio dan nanti di tanggal 7 akan ada perayaan bersama Pemerintah dan stakeholder,” tutur Pdt. Sherly.
“ Kami berharap melalui kegiatan yang dilakukan bersama ini, teman-teman disabilitas semuanya merasakan kalau mereka itu dihargai dan mereka bisa melakukan hal sekecil apapun dari kemampuan mereka dengan turut menyuarakan dan berkontribusi untuk pembangunan di daerah ini,” sambungnya.
Ditambahkan Ketua HWDI Papua Barat ini,nantinya dalam perayaan peringatan hari disabilitas Internasional akan ada penampilan khusus dari para penyandang disabilitas Manokwari, pameran UMKM dan juga penyampaian suara hati/aspirasi dari penyandang disabiltas yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“ Nanti di tanggal 7 besok juga mereka akan menyuarakan apa yang selama ini terabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh masyarakat khususnya para pemangku kepentingan dan juga stakeholder. Karena keadilan akan terjadi jika ada speak up, sehingga semua akan didengar dan harapanya dapat diwujud nyatakan apa yang menjadi hak mereka,” ujarnya.
Sebelumnya dalam penyampaian suara hati yang disampaikan Ibu Lusi sebagai penyandang tuna daksa ini mengharapkan agar pemerintah atau para pemangku kepentingan untuk memperhatikan para disabilitas baik dari segi menyiapkan lapangan kerja maupun dari sisi pembelaan karena kerap kali para disabiltas mengalami kekerasan, diskriminasi dan sebagainya.
“ Beberapa teman disabilitas ada yang memiliki ijazah namun bisakah mereka bekerja di instansi yang harapanya bisa menyambung hidup mereka. Selain itu, kami ini sering mendapat perlakuan kekerasan dan diskriminasi dan kita ini mau mengadu ke siapa, apakah pemerintah bisa memberikan solusi seperti menyediakan pengacara untuk membela disibilitas yang mengalami ketidakadilan. Beberapa kasus kami di Polda sampai saat ini tidak ada kejelasan. Jadi saya harap ini dengar oleh para pemangku kepentingan sehingga bisa membantu kami,” tukasnya.
Sementara salah satu pendamping disabilitas, Toto Rizky mengajak seluruh penyandang disabilitas untuk terus semangat dan memotivasi keluarga maupun teman-teman disabiltas yang lain agar mau keluar dari keterpurukan akibat diskriminasi dan stigma negatif.
“ Masih banyak diluar sana, keluarga kita yang belum berani keluar dari keadaan yang ditakuti dan kumpul bersama seperti saat ini dan kami berharap kita semua saling memotivasi dan terus mengajak yang lain agar bisa berkumpul bersama dengan kita menyuarakan hak-hak disabilitas,” ajaknya. (ACM)