MANOKWARI – Sesar Papua dikatakan aktif sejak 2 Februari, Polda Papua Barat bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat, Basarnas dan Kodam XVIII Kasuari menggelar apel siap siaga menghadapi bencana alam di wilayah Papua Barat, bertempat di Mapolda Papua Barat, Kamis (16/2/2023).
Apel pasukan kesiapsiagaan bencana alam ini di pimpin oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat Derek Ampnir bersama pejabat utama di lingkup Polda Papua Barat, Kodam XVIII Kasuari, Basarnas
Dalam arahan tertulis Kapolda Papua Barat yang dibacakan Kepala BPBD Papua Barat, Derek Ampnir menyampaikan bahwa fenomena yang sekarang terjadi dimana beberapa kali telah terjadi bencana alam, sehingga patut untuk di antisipasi sebelumnya.

“Untuk menghadapi fenomena bencana alam kita harus menyiapkan dengan sungguh dengan siap waspada dan antisipasi dengan baik dimana daerah yang memiliki potensi banjir dan tanah longsor yang biasa menimbulkan kerugian materi, agar di dapat diantisipasi sedini mungkin”, ujarnya.
“Kesiapsiagaan dan pencegahan dapat mengurangi resiko tinggi bencana alam yang datangnya seperti tamu yang tidak di undang namun dapat terjadi saat kita tidak siap”, tambahnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa di Papua Barat belakang ini sudah terjadi beberapa kali bencana, seperti halnya gempa bumi yang sering terjadi.
“Telah terjadi beberapa kali bencana di Papua Barat, sudah terjadi tiga kali terjadi bencana terutama bencana gempa di Kabupaten Manokwari Selatan yang baru-baru terjadi”, katanya.
“Sesar Papua sedang aktif sejak 2 Februari”, imbuh Derek.
Dirinya berharap agar semua pasukan dapat memaksimalkan persiapan dini mulai saat ini.
“Melalui apel ini pasukan benar-benar memaksimalkan diri dengan semaksimal mungkin yang di mulai dalam penanggulangan bencana tahun 2023”, tutur Derek.

Kepala BPBD Papua Barat ini juga menekankan beberapa hal yang akan menjadi fokus kesiapsiagaan bencana alam, yaitu :
1. Siapkan seluruh administrasi yang perlu disiapkan
2. Siapkan sarana dan prasarana juga satuan tugas inti maupun cadangan.
3. Memetakan setiap perkembangan situasi yang di anggap rawan terjadi bencana,
4. Lakukan himbauan kepada masyarakat yang daerah nya rawan terjadi bencana.
5. Jalin silaturahmi dengan instansi yang berhubungan dengan pencegahan dan penanggulangan nencana.
Apel ini merupakan modal utama untuk mensinergikan kekuatan untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Derek Ampnir berpesan untuk melaksanakan pelatihan bersama guna menghadapi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja. (ACM_2)






















