MANOKWARI – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Papua Barat menggelar sekolah lapang iklim (SLI) guna meningkatkan pemahaman informasi iklim untuk antisipasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian, bertempat di Aula Fakultas Pertanian (Faperta) Unipa, Selasa (30/4/2024).
Kegiatan yang digelar sehari ini melibatkan peserta sebanyak 45 orang yang terdiri dari 25 mahasiswa/i Faperta dan 20 mahasiswa/i Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Papua Barat, Uci Sanusi dalam laporannya menuturkan kegiatan SLI dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan tentang perubahan iklim terhadap kegiatan pertanian, memperluas jaringab komunikasi sehingga informasi yang diberikan oleh BMKG dapat tersampaikan dengan baik.
” Selain itu bertujuan untuk menjembatani dan mentransfer pengetahuan dari ahli bidang klimatologi, dan diharapkan ada pemahaman terhadap info iklim serta dampaknya pada kegiatan di sektor pertanian, sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim,” tutur Uci.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura, Yustus Rumakiek dalam sambutannya mengatakan melalui sekolah lapang iklim juga memberikan informasi ketahanan pangan dengan memperhatikan tentang pengetahuan iklim yang sangat berdampak pada bidang pertanian. Tidak hanya itu, mahasiswa sebagai generasi penerus diharapakan mampu menjadi perpanjangan tangan Pemerintah dan juga BMKG dalam memberikan informasi mitigasi iklim dan mengatasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
” Harapanya adik-adik mahasiswa ini dapat menyerap materi yang diberikan sehingga nantinya mereka sebagai generasi emas bangsa bisa menjadi agen perubiahan terutama dalam mitigasi iklim dan dampaknya terutama pada sektor pertanian yang berkaitan erta dengan iklim atau cuaca,” harap Yustus.
Sementara itu, Kepala Balai PPI Karhutla Wilayah Papua dan Maluku, Prianto mengresiasi kegiatan SLI bagi mahasiswa di Manokwari karena menurutnya dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan dan pencegahannya harus dilakukan bersama termasuk di sektor pertanian. Sehingga dimulai dari mahasiswa pertanian merupakan pilihan yang tepat dalam kegiatan sekolah lapang iklim, walaupun sektor-sektor lain juga terdampak seperti kehutanan dan wilayah pesisir.

” Dampak perubahan iklim ini sudah terasa di Indonesia dan bagaimana mencegahnya menjadi upaya bersama yang harus dilakukan, terutama sektor pertanian yang berkaitan erat dengan iklim, sehingga SLI ini dimulai dari mahasiswa pertanian tentunya sangat baik,” ucap Prianto.
Hal senada juga diutarakan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Papua (Unipa) Dr. Wasgito Purnomo. Dirinya mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh BMKG kepada mahasiswanya sehingga bisa memperoleh pengetahuan tambahan tentang klimatologi dan perannya dalam pertanian.

” Sekolah Lapang Iklim, ini sangat bermanfaat sekali untuk mahasiswa kami yang ikut kegiatan rata-rata sudah semester 5 dan mendapat mata kuliah klimatologi pertanian, sehingga mereka dapat menambah ilmu dari luar perkuliahan yang nantinya dapat dipraktekkan dalam kuliah mereka,” ucap Purnomo.

Dalam kegiatan SLI ini, para peserta dibekali dengan materi pengenalan informasi iklim dan praktikum/simulasi pembentukan awan dari BMKG, kemudian materi tentang perubahan iklim dan dampaknya dari Balai PPI Karhutla Wilayah Papua Maluku. (ACM)






















